Kukar jadi Lokus EnABLE, Kelompok Rentan Disiapkan Akses Manfaat Program Karbon
Pertemuan Multistakeholder Proyek EnABLE dalam mendukung Program Pengurangan Emisidi Kukar. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi salah satu daerah sasaran pelaksanaan Program EnABLE (Enhancing Access to Benefits while Lowering Emissions) yang mendukung Program Pengurangan Emisi di Kalimantan Timur.
Program yang dijalankan kemitraan dengan
dukungan pendanaan Bank Dunia itu mulai diperkenalkan melalui Pertemuan
Multistakeholder di Hotel Grand Fatma, Tenggarong, Selasa (7/7/2026), sebagai
tahap awal pendampingan di desa-desa sasaran.
Program EnABLE sendiri sudah berlangsung pada
2024–2027 dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Program
Pengurangan Emisi (Emission Reduction Program/ERP), memperkuat partisipasi
kelompok rentan dalam tata kelola di tingkat desa, sekaligus membuka akses
terhadap manfaat karbon maupun non-karbon secara lebih inklusif.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan
Setdakab Kukar, Muhammad Iriyanto, mengatakan pelaksanaan EnABLE menjadi bagian
dari upaya menghadirkan pembangunan yang lebih merata tanpa mengesampingkan
komitmen menjaga lingkungan.
"Tujuan utamanya memang sebagai
pemerataan pembangunan untuk semua kalangan, tetapi juga sekaligus mendukung
upaya pengurangan emisi, khususnya di Kalimantan Timur," ujarnya.
Menurut Iriyanto, pendekatan yang digunakan
dalam program tersebut dinilai berbeda karena tidak hanya berfokus pada aspek
lingkungan, tetapi juga memastikan kelompok masyarakat yang selama ini belum
banyak menikmati manfaat pembangunan dapat ikut terlibat.
"Mudah-mudahan nanti program ini secara
konsisten dapat memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat yang selama
ini mungkin terkonotasikan agak terpinggirkan, misalnya penyandang disabilitas,
kaum perempuan, ataupun kelompok masyarakat lain yang selama ini belum banyak
merasakan manfaat pembangunan," jelasnya.
Ia berharap pelaksanaan EnABLE terus berlanjut
dan menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga prinsip no one left behind
benar-benar dapat diwujudkan.
"Kalau selama ini pembangunan seolah-olah
hanya berpusat di perkotaan, sekarang kita mulai bergeser ke wilayah-wilayah
pedalaman yang selama ini belum banyak tersentuh. Yang menarik dari program ini
adalah pelaksanaannya dilakukan secara paralel, di satu sisi memberdayakan
kelompok-kelompok masyarakat tertentu, tetapi di sisi lain juga secara konsisten
mendukung upaya pengurangan emisi," ucapnya.
Pelaksanaan program di Kukar merupakan bagian
dari pendampingan EnABLE di empat kabupaten di Kalimantan Timur.
Selain Kutai Kartanegara, program juga
dilaksanakan di Kabupaten Paser, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu melalui
organisasi masyarakat sipil (CSO) yang menjadi mitra pelaksana di lapangan.
Sementara itu, Project Officer EnABLE
Kalimantan Timur, Rudi, menjelaskan EnABLE bukan merupakan program penyaluran
dana karbon, melainkan program pendamping yang mendukung pelaksanaan Forest
Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF-CF).
Pendampingan dilakukan agar masyarakat
memahami program tersebut sebelum manfaat dana karbon disalurkan.
"Program ini adalah program yang
mendukung pelaksanaan FCPF-CF. Kemudian, program ini mendukung kegiatan
tersebut dalam konteks penjangkauan kelompok-kelompok rentan, seperti kelompok
masyarakat adat, kelompok perempuan, kelompok disabilitas, dan kelompok rentan
lainnya. Tujuannya agar mereka memperoleh informasi terkait Program FCPF-CF
tersebut dan juga dapat menerima manfaat dari program itu," jelasnya.
Menurut Rudi, selama ini masih banyak kelompok
rentan yang sulit memperoleh informasi karena kondisi geografis maupun
keterbatasan akses terhadap proses pengambilan keputusan.
Karena itu, kata dia, pendampingan dilakukan
agar mereka tidak hanya menjadi peserta musyawarah desa, tetapi juga terlibat
dalam penyusunan rencana pemanfaatan dana karbon.
"EnABLE ini tidak memberikan uang kepada
desa. Kami hanya memberikan pendampingan, mulai dari proses musyawarah, diskusi
dengan masyarakat, sampai nanti ketika dana FCPF itu turun, masyarakat sudah
memiliki rencana penggunaannya sesuai kebutuhan. Kami juga memprioritaskan
untuk mendengar kelompok-kelompok rentan yang selama ini jarang terlibat,"
kata dia.
Kelompok sasaran pendampingan meliputi
masyarakat adat, perempuan, penyandang disabilitas, rumah tangga miskin,
pemuda, serta kelompok rentan dan marginal lainnya.
Selain itu, manfaat Program FCPF-CF nantinya
juga dapat diterima kelompok perhutanan sosial seperti Lembaga Pengelola Hutan
Desa (LPHD), Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), Kelompok Tani Hutan
(KTH), serta pemerintah desa sesuai mekanisme yang ditetapkan.
Rudi mengatakan Program EnABLE menjangkau 71
desa di empat kabupaten di Kalimantan Timur, terdiri atas 30 kampung di Kutai
Barat, 25 desa di Paser, 10 kampung di Mahakam Ulu, dan enam desa atau
kelurahan di Kutai Kartanegara.
"Jadi tidak semua desa atau semua
kabupaten mendapat Program FCPF-CF ini. Kalimantan Timur sendiri menjadi
satu-satunya provinsi yang mendapatkan dana FCPF tersebut, bahkan di kawasan
Asia Pasifik baru Kalimantan Timur yang menjadi pilot," ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa implementasi pendampingan
oleh organisasi masyarakat sipil dimulai pada Juli 2026 hingga Februari 2027,
sedangkan masa kontrak program berlangsung sampai Maret 2027.
Selama periode tersebut, lanjutnya, masyarakat akan didampingi menyusun rencana kegiatan sehingga ketika dana karbon disalurkan, pemanfaatannya telah disepakati bersama dan tetap berorientasi pada upaya penurunan emisi.
Rudi berharap pendampingan yang dilakukan
tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap program, tetapi juga
memperkuat peran kelompok rentan dalam menjaga hutan dan lingkungan melalui
kearifan lokal yang selama ini telah mereka jalankan.
"Dengan adanya Program EnABLE, harapan
kami nanti semua kelompok-kelompok rentan yang ada di desa-desa sasaran EnABLE
itu betul-betul diajak dan didampingi. Mereka tahu bahwa ada program
pengurangan emisi yang masuk ke wilayahnya, memahami mekanisme untuk mengakses
manfaatnya, sehingga dapat melanjutkan kontribusi yang selama ini sudah mereka
lakukan dalam menjaga hutan, sumber air, sungai, dan lingkungan,"
pungkasnya. (kriz)